“ Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran“. (Qs. Al-Maidah/5 : 2)
2. Kita menolak segala bentuk penjajahan dimuka bumi berdasarkan Qs. Al-Maidah/5 : 3,
“ Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berusahalah melakukan perbuatan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuanglah dijalan-Nya, supaya kalian mendapat kebahagiaan”.
“ Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu (tetapi) janganlah kamu melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas “ (Qs. Al-Baqarah : 190).
“ Dan telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu “ (Qs. Al-Hajj/22 : 39).
Ketiga ayat tersebut terdapat perintah Allah SWT untuk melakukan jihat atau perang menolak segala bentuk penjajahan. Penjajahan itu adalah bentuk kepongahan, keserakahan manusia dalam mengingkari ke-Esaan Allah. Kenapa ? konotasi penjajah adalah pemaksaan kehendak, merampas hak orang lain, berbuat dzalim, merusak strata sosial, bahkan menghancurkan kehidupan manusia secara berkelanjutan. Hal ini sangat bertentangan dengan sunnatullah. Islam mewajibkan umatnya berjihat guna mempertahankan negara dan bangsa. Jihad adalah panggilan iman. Tidak mau berjihad padahal jelas-jelas negara diserang musuh maka ia adalah kafir. Jihad dalam arti luas adalah tenaga, harta, jiwa dan pikiran.
Semangat inilah yang berurat dan berakar pada saudara kita di Palestina meskipun hanya bersenjatakan batu, kerikil dan rudal buatan sendiri yang notabene tidaklah seimbang dengan persenjataan - alat tempur Israel. Marilah kita mengingat kembali peristiwa perang uhud sebagai pembelajaran agar tidak berpangku tangan membiarkan saudara-saudara kita teraniaya ; Disaat-saat genting mereka membiarkan kaum muslimin berjuang sendirian. Diantaranya yang terkenal bernama Qazman. Pada mulanya Qazman tidak mau terjun kemedan perang uhud itu, dan memilih tinggal dirumahnya di Madinah. Tetapi apa yang terjadi, kaum wanita disekitarnya mengejeknya terus-menerus sebagai lelaki pengecut. Akhirnya karena malu iapun terjun kemedan laga dengan segala keberaniannya.
Detik-detik kematiannya, Qazman berucap ; saya bertempur bukan karena agama, saya hanya berperang untuk mempertahankan keturunan masyarakat kami. Sumber lain menyebutkan Qazman menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW yang juga sedang mengalami luka-luka. Tetapi Rasulullah SAW tidak menjawab salamnya, dan Nabi menyatakan bahwa Qazman berjuang semata-mata karena malu bukan karena Allah SWT. Memang Qazman seorang pahlawan, tetapi sayang dia seorang munafiq.
Dari peristiwa tersebut kita ambil pelajaran bahwa ketika perang berkecamuk dan kemudian kaum muslimin yang lain hanya membiarkan saja tanpa ikut jihad dan atau membiarkannya tanpa memberikan bantuan sedikitpun, maka ia dicap munafiq. Sedangkan orang-orang munafiq tempatnya di dasar neraka, firman-Nya
“ Sesungguhnya orang-orang munafiq itu ditempatkan pada jurang-jurang api neraka yang paling dalam” (Qs. An-Nisa’ : 145).
Saudaraku, orang yang telah berjasa terhadap kita dan negara kita, kini terbaring lemas terkulai tidak berdaya, hari-harinya penuh penderitaan, kelaparan, ketakutan sangat, tangisan darah bercucuran akibat bom bardir, rudal-rudal penjajah zionis Israel yang merenggut ratusan ribu anak-anak tak berdosa, wanita hamil meregang nyawa, orang tua mati sia-sia. Ratusan masjid roboh, rumah sakit rata dengan tanah. Pupus sudah harapan, kelam sudah kehidupan, suram sudah masa depan. Saudaraku, masih pantaskah kita berpangku tangan dan bertanya kenapa kita membantu Palestina? sungguh kita insan tak beriman. Tak pandai bersyukur dan berterima kasih. Kacang lupa pada kulitnya. Bangsa Palestina sekarang membutuhkan Muhammad Ali Taher berikutnya dari kita bangsa Indonesia. Ingatlah itu saudaraku..!!. Wallahu a’lam bisshowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar